Kampanye Sulit, Prabowo: Lebih Baik Mati daripada Menyerah

Prabowo kampanye di solo
Pendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengibarkan kain panjang bendera merah putih saat mengikuti kampanye terbuka di Stadion Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Rabu (10/4/2019). Foto: Antara/Mohammad Ayudha

NADPost.com – Calon Presiden RI nomor urut 02 Prabowo Subianto menegaskan dirinya tidak akan menyerah pada kenyataan mengalami kesulitan pada masa kampanye Pemilu 2019. Prabowo mengungkap, kampanye akbarnya di Semarang pada Selasa (9/4/2019) batal karena pihaknya mengalami kesulitan dalam hal perizinan.

Meski menghadapi berbagai kesulitan, ia mengaku tidak takut, gentar, dan tidak akan berlutut kepada pihak yang merugikannya. “Lebih baik mati daripada menyerah kepada orang-orang itu,” kata Prabowo saat berorasi di kampanye terbuka di Stadion Sriwedari Solo, Rabu (10/4/2019).

Prabowo mencontohkan kampanye terbuka di Lapangan Simpang Lima Semarang, pada Selasa (9/4/2019), yang batal terselenggara. Menurut Prabowo, panitia tidak mendapat izin dari pemerintah setempat. Kemudian, lokasi dipindah ke GOR Jatidiri Semarang, tetapi juga tidak mendapat izin.

“Tadinya kami mau kampanye di Semarang, di Lapangan Simpang Lima tapi katanya tidak boleh. Saya ingat dulu pada 2009, saya wakilnya ibu Mega dan kami melawan bapak SBY. Tetapi saat itu tidak ada larangan kampanye ke mana-mana,” katanya.

Berkampanye di Solo, Prabowo menyatakan negara sedang sakit parah karena banyak kekayaannya yang berada di luar negeri. “Ibu Pertiwi sedang diperkosa. Negara ini dalam keadaan arah yang keliru. Kalian (masyarakat) tidak mau lagi dengan arah yang salah ini,” katanya.

Ia mengatakan selama ini kekayaan negara hanya menguntungkan dan memperkaya segelintir orang. “Segelintir orang ini yang membiarkan kekayaan Bangsa Indonesia, milik ratusan juta rakyat Indonesia dibawa ke luar negeri. Sekarang rakyat Indonesia sudah paham bahwa kekayaan Indonesia tidak tinggal di Indonesia,” katanya.

Prabowo mengatakan, rakyat ingin perubahan dari arah yang keliru kembali ke arah yang benar. “Tetapi hari ini kita berkumpul di sini dengan rasa optimisme. Sebentar lagi Indonesia menang. Saya merasakan sekeliling saya ke mana-mana, kabupaten demi kabupaten, provinsi demi provinsi. Saya melihat mata rakyat, getaran hati rakyat Indonesia,” katanya.