Gagal Menjadi Wakil Rakyat, Para Caleg Ini Mulai Stress dan Berkeliaran di Jalanan. RSJ Siap Menampung

Ilustrasi caleg stress

NADPost.com – Pemilu kali ini cukup berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya karena dilaksanakan secara serentak. Pilpres diadakan bersamaan dengan Pileg.

Namun, perhatian masyarakat lebih ke paslon capres-cawapres, padahal pemilihan anggota dewan juga tidak kalah penting. Soalnya, yang menyusun UU nantinya dan mengawasi pemerintahan nantinya adalah para anggota dewan ini.

Quick count juga melakukan survei terhadap para caleg ini dan hasilnya sudah keluar. Beberapa ada yang bisa tenang karena menurut survei lolos, namun ada juga yang mendapatkan hasil buruk dan kini terserang stress dan depresi. Misalnya adalah seorang caleg dari Partai Gerindra yang berinisial YA.

Dia menunjukkan gejala depresi karena perolehan suaranya tidak cukup untuk menjadi wakil rakyat.

Saking depresinya, caleg DPRD Kabupaten Cirebon ini harus dirukiyah di Padepokan Anti Galau di Desa Sinarrancang, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon. Begitu sampai di padepkan, YA langsung dimandikan dengan air kembang oleh Pemimpin Padepokan Anti Galau, Ustaz Ujang Al Busthomi.

YA memang sudah habis banyak untuk pencalonan kali ini. Dia sudah mengeluarkan banyak uang untuk kampanye dan hal-hal lain agar bisa duduk di gedung DPDR Cirebon. Sayangnya, saat hari pencoblosan, dia gagal mencapai target.

Awalnya, dia menargetkan mendapat 7 ribu suara, sayangnya dari hasil perhitungan, suara yang didapatnya dari semua TPS hanya seribu suara saja.

Depresinya kian menjadi karena ada sebanyak 588 orang caleg yang mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Cirebon. Sementara, jatah kursinya cuma 50.

Lebih keras dari SBMPTN, ya? Keluarga berharap setelah dia dirukiyah di Padepokan Anti Galau, YA tidak lagi depresi dan mengalami gangguan mental.

Ada lagi seorang caleg yang mengalami stress berat karena sudah mengorbankan banyak harta agar bisa duduk di parlemen. Sayangnya, suara yang didapat tidak sesuai target dan dia depresi hinga berkeliaran di jalanan.

Ironisnya, saat berada dalam kondisi menuju gila ini, dia masih tetap merasakan benci kepada warga Tionghoa di Indonesia. Dia berharap mereka semua mati saja.

RSJ sendiri menyatakan siap menampung para caleg gagal dan stress ini. Mereka bahkan bisa berobat dengan menggunakan BPJS Kesehatan. Tentunya, pengobatan dan perawatan akan disesuaikan dengan kelas yang terdaftar di BPJS Kesehatan.

Salah satu RSJ yang siap menampung adalah Rumah Sakit Jiwa Tampan di Pekanbaru. Ada 1 dokter spesialis jiwa dan 5 psikiater yang siap menangani para caleg.

Pihak RSJ Tampan jua menjamin kerahasiaan data dan identitas para caleg yang berobat di sana. Soalnya, itu sudah menjadi rahasia medik dan UU sudah mengatur mengenai hal ini.

Begitulah dunia politik. Harus siapkan mental ketika akan berkecimpung, apalagi saat sudah menjadi bagian di dalamnya. Kalau melihat hal-hal seperti ini, apakah kamu masih mau menjadi wakil rakyat?