Komedian Berjiwa Sosial yang Jadi Super Star Pemilu di Aceh, Inilah Kisah Haji Uma

haji uma
Sudirman (haji uma) salah satu anggota DPD RI.

NADPost.com – “Suatu hari ada kawan FB menginbox saya; meminta bantu terkait TKI asal Aceh yg meninggal di Malaysia, terkendala beberapa hal dan belum bisa dipulangkan.

Saya katakan belum pernah menangani hal semacam itu.

Namun saya tawarkan solusi;

Saya katakan; adek bisa hubungi abang ini….. (sambil mengirimkan capture wall Facebook abang tsb) yang saya yakini punya hubungan dekat dengan Haji Uma.

Loading...

Beberapa hari setelahnya saya mengecek kembali dengan menginbox kawan tsb.

Bagaimana kondisi jenazah yg tempo hari disampaikan?,

Kawan tsb menjawab; ‘sudah oke bang, jenazahnya sudah tiba di kampung halaman dan akan segera dikebumikan’.

Bagi saya, itu cukup menggambarkan Headline Serambi Indonesia hari ini.

Cukup menggambarkan kenapa Haji Uma Bisa mendapatkan suara lebih dari setengah juta.”

Pernyataan di atas terpampang di dinding Facebook Edi Fadhil, sosok relawan dan pekerja sosial di Aceh.

Ungkapan itu ia tulis sebagai bentuk sebuah testimoni merespons berita utama Harian Serambi Indonesia yang mengangkat kisah Haji Uma, sosok yang belakangan ini menjadi buah bibir rakyat Aceh dan warga net di berbagai platform media sosial.

Sosok Haji Uma bak bintang bersinar menyilaukan angkasa. Personifikasi ini memang tidaklah berlebih. Haji Uma telah membuktikannya. Ia pantas menjadi bintang di antara 26 calon DPD yang bersaing merebut hati pemilih di Aceh pada Pemilu 2019.

Lebih pantas lagi Haji Uma dilakab sebagai sang super star yang dielu-elukan rakyat dalam kontestasi Pemilu 2019.

Haji Uma sukses menoreh karier gemilangnya di pentas politik setelah meraup lebih setengah juta suara.

Bila dikalkulasikan Haji Uma mampu meraih dua hingga tiga kursi DPD sekaligus.

Ya, begitulah gambaran besarnya suara yang diperoleh Haji Uma sebagai calon anggota DPD pada Pemilu 2019.

Testimoni Edi Fadhil merupakan bagian kecil dari jutaan testimoni pemilih di Aceh yang tak terungkap dari sosok Haji Uma.

Sebagian besar pemilih menyimpannya di hati dengan harapan kelak suaranya tidak sia-sia telah memilih Haji Uma sebagai wakil mereka di gedung DPD RI.

Lantas mengapa sosok Haji Uma begitu digandrungi para pemilih hingga mampu meraup setengah juta suara rakyat Aceh?

Fakta yang paling mudah disimpulkan Haji Uma telah menjelmakan dirinya sebagai penolong bagi kaum miskin dan terpinggirkan dalam status sosial mereka.

Sosok Haji Uma kerap menghiasi wajah media massa dalam berbagai aksi sosialnya membantu mereka yang papa, dan ditimpa kesulitan hidup.

Inilah efek yang paling dahsyat yang diciptakan Haji Uma hingga ia menjadi sosok yang dikenal publik berjiwa sosial dan ringan tangan membantu sesama.

Selebihnya, Haji Uma memang dikenal sebagai publik figur dan artis film komedi yang hijrah ke panggung politik.

“Ini contoh yg peduli ke pada orang miskin rakyat aceh bisa merasakan pertolongan haji uma dan banyak onggota dewan lain sudah turun temurun duduk didewan tidak pernah qda yg peduli ke rakyat kecil maka mulai hari ini semmoga semua orang aceh bisa mencontoh haji umma…” tulis warga net Fauzi Idris di kolom komentar facebok-nya.

Banyak netizen lainnya yang memberi apresiasi terhadap kegiatan sosial yang dijalankan Haji Uma selama menjabat sebagai anggota DPD RI.

“Saya juga tidak ragu untuk mencoblos beliau, jangankan dua periode, 10 periode insya allah saya siap mendukung Haji Sudirman,” timpal warganet pemilik akun Maman Reyes.

“Kerja.. Kerja. Nyata…. Peugah lage but. Hana janji tapi bukti tak intat ke rakyat aceh,” begitu Dedi Syahputra juga menulis komentarnya tentang Haji Uma.

Bahkan belakangan ketenaran Haji Uma mulai melesat jauh menjadi isu politik Pilkada 2022.

Haji Uma digadangkan menjadi calon gubernur masa depan Aceh.

“Klo elektabitasnya sanggup bertahan sampai 2022, calon kuat Gubernur Aceh,” tulis Muhajir Ismail.

“Terus berkarya tgk haji uma.. semoga menjadi inspirasi bagi generasi muda aceh..,” tambah Dedi Sy di kolom komentar facebook Edi Fadhil.

Bernama asli Sudirman, sosok Haji Uma yang melejit sebagai ayah Yusniar dalam serial komedi Aceh Eumpang Breueh, berhasil merebut hati dan simpati rakyat Aceh, selama 4,5 tahun duduk sebagai Anggota DPD RI di Senayan, Jakarta.

Pada Pemilu 17 April lalu, Sudirman alias Haji Uma yang kembali mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI, meraup hampir separuh suara yang diperebutkan oleh 26 calon DPD RI asal Aceh.

Data diperoleh Serambinews.com dari sumber akurat, hingga Jumat (25/4/2019), Haji Uma sudah memperoleh 573.123 suara atau 40,65 persen dari total 1.409.940 suara sah (sementara) dalam pemilihan calon anggota DPD RI di Aceh.

Hebatnya lagi, tak ada satu pun tudingan curang terhadap hasil yang diraih Haji Uma. Bahkan, para pesaingnya pun mengakui kemenangan telak Haji Uma ini.

Sebab, mereka juga tahu Haji Uma tidak punya tim yang mampu mengubah hasil pemilihan. Bisa dibilang, perolehan suara Haji Uma dalam Pemilu 2019 bersih sebersih-bersihnya.

“Syukur Alhamdulillah atas amanah yang diberi oleh masyarakat Aceh. Kemenangan yang Allah anugerahkan hari ini merupakan kemenangan masyarakat, dan ini tidak terlepas dari hasil evaluasi masyarakat selama ini,” ujar Haji Uma menjawab Serambinews.com via pesan Whatsapp (WA), Kamis (25/4/2019).

Haji Uma mengaku tidak membentuk tim pemenangan dalam Pemilu 2019. Hanya ada beberapa orang yang berperan sebagai leason officer (LO) atau penghubung dirinya dengan KIP Aceh dan KIP kabupaten/kota.

Selebihnya, Haji Uma dibantu oleh para relawan yang selama ini bertindak sebagai penghubung dirinya dengan masyarakat miskin yang membutuhkan bantuan di sejumlah daerah.

“Maka, saya awalnya pasrah saja dalam mengikuti Pemilu 2019 ini. Saya serahkan semuaya kepada Allah dan masyarakat. Alhamdulillah, hasilnya membuat saya terharu dan bahagia,” ungkap Haji Uma. Haji Uma juga mengaku tidak punya strategi khusus dalam menggaet suara pemilih.

“Yang ada hanya kerja dan mengabdi dan tanpa menghirau ke belakang. Saya berusaha agar tidak pernah merasa letih dalam berbuat, serta tabah dengan pujian dan fitnah,” ungkap Haji Uma.

Haji Uma selama ini dikenal luas oleh masyarakat Aceh karena sikap sosialnya yang tinggi. Dia kerap hadir ke rumah orang miskin yang menderita karena sakit, juga membantu pemulangan orang sakit dan jenazah dari luar Aceh maupun luar negeri, terutama dari negeri jiran Malaysia.

Lalu, dari mana Haji Uma mendapatkan uang untuk membiayai itu semua? Sebab diketahui anggota DPD RI tidak dibekali dengan dana aspirasi atau pokok pikiran (pokir).

“Dana untuk kebutuhan itu dari gaji saya sebagai anggota DPD. Malah kadang-kadang berutang dulu kepada orang, nanti kalau sudah gajian kita kembalikan,” ujarnya.

Disinggung tentang banyaknya publikasi atas kerjanya, Haji Uma mengatakan bahwa lembaga publik sejatinya memang memberikan informasi kepada publik tentang apa saja yang diperbuat oleh orang yang telah dipilih masyarakat dalam pemilu.

“Publik (masyarakat) harus tahu apa yang dilakukan oleh orang yang telah mereka berikan amanah. Ini sebagai tanggung jawab kepada publik, di antaranya lewat media massa dan media sosial. Intinya, kerja harus ikhlas dan tuntas mengawal satu persoalan, tidak setengah jalan,” kata Haji Uma.

Haji Uma pun memastikan dirinya akan selalu hadir dan memperjuangkan kesenjangan dalam masyarakat.

“Saya akan bersuara terus dan akan melakukan upaya-upaya yang menegakkan hajat dan untuk tegaknya kewibawaan rakyat, dengan segenap tenaga, kapasitas, dan kemampuan yang saya miliki,” jelasnya.

Abu Yusniar berharap ke depan semua pihak di Aceh harus bersenergi untuk tercapai cita-cita bangsa yang makmur, mandiri, dan bersyariah.

“Bagi saudara-saudara saya yang belum terpilih dalam Pemilu 2019 ini, janganlah berkecil hati. Mungkin waktu dan kesempatan yang belum tepat dan masih ada waktu ke depan,” kata Haji Uma.

“Dalam pemilu damai yang sudah berlalu ini, saya percaya yang mencalonkan diri semua putra-putri terbaik bangsa. Hanya saja soal waktu dan kesempatan saja yang belum berpihak,” pungkas H Sudirman.

Dengan jumlah suara melimpah yang diraih Haji Uma, maka rasanya pantas saja ketika ada warga yang kemudian mengeluarkan kata-kata, “Haji Uma, na (ada) lawan?”

Advertisement
loading...

Tinggalkan Balasan