Sultan Brunei Batalkan Rajam Sampai Mati Pelaku Seks LGBT dan Zina

Sultan Brunei Darussalam- Hassanal Bolkiah Sultan Brunei Batal Rajam Sampai Mati Pelaku Seks LGBT dan Zina

BANDAR SERI BEGAWAN – Sultan Brunei Hassanal Bolkiah mengumumkan dia tidak akan menerapkan hukuman mati dengan dirajam bagi LGBT yang ketahuan berhubungan seks.

Dilaporkan BBC Minggu (5/5/2019), pengumuman itu muncul setelah hukuman yang diperkenalkan menuai kecaman dunia internasional.

Dilansir Sky News, selebriti seperti George Clooney dan Elton John menyerukan boikot terhadap hotel yang dikelola Sultan Bolkiah.

Seperti Dorchester di London dan Hotel Beverly Hills di Los Angeles.

Loading...

Dalam pernyatannya, Sultan Bolkiah menuturkan dia bakal memperpanjang moratorium hukuman mati dirajam bagi pelaku LGBT, zina, serta pemerkosaan.

Meski Brunei mengizinkan hukuman mati bagi beberapa kasus seperti pembunuhan berencana dan peredaran narkoba, belum ada eksekusi yang terjadi sejak 1957.

Sultan Bolkiah menyatakan dia memahami jika terdapat banyak pertanyaan dan mispersepsi mengenai hukum yang dinamakan Aturan Pidana Syariah (SPCO).

“Bagaimanapun setelah mispersepsi dan pertanyaan ini bisa dijernihkan, hukum ini bisa ditegakkan dengan kuat,” tegas sultan berusia 72 tahun itu.

Respon tak biasa yang diberikan Sultan Brunei semakin mengejutkan setelah pemerintahannya menyatakan terjemahan Inggris pidatonya yang merupakan sikap tidak umum.

Aturan yang diterbitkan pada April lalu itu menuai kecaman dari pegiat HAM.

Antara lain Amnesty International yang menyebut hukum itu sebagai “setan”.

Kemudian Human Rights Watch menyatakan hukuman itu “barbar sampai ke akar-akarnya”, dan mendesak supaya peraturan tersebut segera ditangguhkan.

Negara kecil di kawasan Asia Tenggara itu pertama kali meperkenalkan hukum syariah itu pada 2014 dengan tahap pertama pelaku diganjar dengan penjara dan denda.

Pada fase pertama itu hukum syariah yang diberlakukan baru sebatas denda atau hukuman penjara untuk pelanggaran, seperti perilaku tidak senonoh atau melalaikan kewajiban shalat Jumat bagi pria Muslim.

Kemudian hukum yang diperkenalkan pada 3 April lalu berisi tahap kedua di mana pelaku bisa dirajam sampai mati, atau diamputasi bagi para pencuri.

Undang-undang baru ini akan membuat para pelaku hubungan seksual sesama laki-laki terancam hukuman mati dengan cara dirajam atau dilempari batu.

Adapun wanita yang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain akan diancam hukuman maksimum 10 tahun penjara atau 40 kali pukulan menggunakan batang tebu.

Hukum syariah yang ketat juga mengancam pelaku tindak pencurian dengan hukuman potong tangan.

Sementara orang yang menghina Nabi Muhammad dapat diancam dengan hukuman mati, terlepas dari tersangka seorang Muslim atau non-Muslim.

Undang-undang itu akan menjadikan Brunei sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang mengimplementasikan hukum pidana syariah di tingkat nasional, layaknya sebagian besar negara Timur Tengah.

Dalam pidato publiknya, Sultan Hassanal Bolkiah menyerukan ajaran Islam yang lebih kuat, tetapi tidak menyebut tentang hukum pidana yang baru.

“Saya ingin melihat ajaran Islam di negara ini tumbuh lebih kuat,” katanya dalam pidato yang disiarkan secara nasional di sebuah pusat konvensi di dekat ibu kota Bandar Seri Begawan.

“Saya ingin menekankan bahwa negara Brunei adalah… negara yang selalu mengabdikan ibadahnya kepada Allah,” katanya seperti dikutip dari kantor berita AFP.

Dia kemudian menambahkan bahwa dia ingin azan dikumandangkan di semua tempat umum, tidak hanya di masjid, untuk mengingatkan warga Muslim tentang kewajiban mereka.

Kendati telah memberlakukan aturan hukum syariah yang menuai kritik dan kecaman, Sultan bersikeras bahwa Brunei adalah negara yang adil dan bahagia.

“Siapa pun yang datang untuk mengunjungi negara ini akan memiliki pengalaman menyenangkan dan menikmati lingkungan yang aman dan harmonis,” ujar Sultan.

Perserikatan Bangsa-bangsa mengecam undang-undang baru di Brunei, tentang hukuman mati dengan cara dirajam kepada pelaku hubungan sejenis dan perzinaan.

Organisasi negara-negara di dunia itu menyebut undang-undang yang akan mulai diberlakukan pekan ini tersebut “kejam dan tidak manusiawi”.

“Saya mengimbau kepada pemerintah (Brunei) untuk menghentikan pemberlakukan undang-undang pidana baru yang kejam ini, yang akan menandai kemunduran serius bagi perlindungan hak asasi manusia bagi rakyat Brunei jika diberlakukan,” ujar kepala hak asasi PBB, Michelle Bachelet, dalam sebuah pernyataan, Senin (1/4/2019).

Bachelet pun mendesak kepada Brunei untuk mempertahankan moratorium hukuman mati tak tertulis tersebut.

“Saya mendesak Brunei untuk mempertahankan moratorium de facto atas penggunaan hukuman mati,” ujarnya.

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM juga memperingatkan bahwa undang-undang baru itu dapat mendorong kekerasan dan diskriminasi gender, orientasi seksual, dan afiliasi agama.

Sebelumnya, gelombang protes terus terjadi sejak Brunei mengumumkan penerapan hukum Syariah ketat pada Rabu (3/4/2019).

Aksi protes terjadi di Hotel Dorchester, salah satu hotel mewah yang dimiliki Sultan Brunei Hassanal Bolkiah pada Sabtu waktu setempat (6/4/2019).

Diwartakan Sky News, mereka mengecam penerapan hukum yang di dalamnya terdapat eksekusi rajam sampai mati bagi gay dan pelaku zina.

Kebanyakan dari peserta pengunjuk rasa membawa spanduk berisi desakan agar homofobia dihilangkan.

Ada juga yang membawa bendera pelangi.

Aktivis LGBT Peter Tatchell yang memimpin aksi demonstrasi mengatakan dia yakin Sultan Hassanal tidak hanya melanggar penegakan hak asasi manusia.

Namun juga janji untuk menegakkan piagam persemakmuran di mana berisi jaminan terhadap HAM, kesetaraan, dan tidak adanya diskriminasi.

“Kami sangat terkejut dengan tindakan Sultan karena dia meniru hukuman yang diterapkan oleh Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS),” keluh Tatchell.

Universitas Aberdeen yang berlokasi di Skotlandia dilaporkan mempertimbangkan untuk mencsbut gelar kehormatan yang diberikan kepada Sultan Hassanal Bolkiah.

Sementara sejumlah perusahaan mengumumkan mereka telah membatalkan kesepakatan bisnis dengan negara di kawasan Asia Tenggara tersebut.

Lalu artis dunia seperti aktor George Clooney, legenda pop Inggris Elton John, dan pesohor Ellen DeGeneres menyerukan boikot hotel yang dipunyai Sultan Bolkiah.

Di bawah hukum yang baru, diterapkan baik kepada warga lokal maupun asing, siapapun yang kedapatan melakukan hubungan seksual antar-gay bakal dirajam atau dicambuk.

Kemudian pencuri yang tertangkap bakal menghadapi hukuman potong tangan kanan jika baru pertama kali. Kemudian kaki kirinya dipotong jika kembali mencuri.

Brunei merupakan negara kecil namun kaya minyak di Pulau Kalimantan yang merupakan rumah bagi 430.000 jiwa, dua per tiga di antaranya Muslim.

Sultan Bolkiah pertama kali memperkenalkan hukum itu pada 2014.

Sebelumnya, LGBT yang kedapatan berhubungan seksual dihukum penjara selama 10 tahun.

Selain rajam dan hukuman potong tangan, terdapat juga vonis denda maupun penjara bagi kasus hamil di luar nikah atau tidak hadir dalam Shalat Jumat.

Advertisement
loading...

Tinggalkan Balasan