Tradisi Buka Puasa dengan 2.500 Piring Terbang di Masjid Jogokariyan

Senin (6/5) sore sepanjang Jalan Jogokariyan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta, disesaki ribuan orang. Mereka datang untuk menghadiri pembukaan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan (KRJ) yang ke-15. Ratusan stand takjil pun berjejer di sepanjang jalan tersebut.

Tak hanya sebagai surga takjil, di Masjid Jogokariyan ada tradisi unik yang telah dipertahankan puluhan tahun. Masjid setempat yang dibangun tahun 1966 itu, masih menggunakan piring dan gelas untuk menu berbuka, alih-alih menggunakan kardus.
Uniknya lagi, para takmir masjid membagi makanan dengan menggunakan rangka besi bertingkat. Piring-piring pun tampak seperti piring terbang. Total ada 2.500 porsi yang dibagikan kepada jamaah dan masyarakat.

Ketua Panitia KRJ Ahmeda Aulia mengatakan, bahwa tahun ini porsi makanan berbuka meningkat dari sebelumnya 2.000 menjadi 2.500 porsi. Dana yang dibutuhkan pun mencapai Rp 730 juta untuk satu bulan.

Loading...

“Kali ini, kita menambah 500 porsi. Alhamdulilah 2.500 porsi setiap harinya dengan dana sekitar Rp 730 juta selama satu bulan. Dana takjil kita kumpulkan dari dana infak dari Jogokariyan dan juga jamaah se-DIY dan seluruh Indonesia,” katanya.

Hingga pagi tadi dana yang terkumpul sudah mencapai Rp 250 juta. Nantinya jika dana yang terkumpul berlebih akan disalurkan ke masjid-masjid binaan Jogokaryan. Persiapannya pun tidak main-main, setidaknya butuh waktu dua bulan untuk persiapan.

Pembagian menu berbuka puasa dengan ribuan porsi piring terbang di Masjid Jogokariyan Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

“Persiapan, dua bulan sebelumnya sudah mempersiapkan kepanitiaan secara keseluruhan. Ibu-ibu penyedia takjil sudah biasa setiap tahunnya. Sudah biasa menyiapkan dalam jumlah banyak. Dua hari sebelumnya sudah mulai memasak. Dibawa ke masjid. Setelah salat ashar mulai di tata di piring-piring,” katanya.

Soal menu berbuka menggunakan piring ini, dia menceritakan bahwa hal tersebut sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Dia menceritakan bahwa dahulu masjid mempunyai sawah dan hasil panennya digunakan untuk membuat menu buka puasa.

“Acara Ramadhan sejak masjid berdiri sudah ada dari dulu masjid itu punya sawah hasil panen kalau Ramadan dibuat buka bersama kalau di luar Ramadan dijual untuk keperluan rumah tangga masjid,” katanya.

Penggunaan piring juga dianggap lebih bermanfaat bagi lingkungan karena tidak menimbulkan sampah. Selain itu, membuka kesempatan bagi banyak orang untuk beramal.

Pembagian menu berbuka puasa dengan ribuan porsi piring terbang di Masjid Jogokariyan Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

Dengan menggunakan piring, maka orang yang mencuci pun akan mendapat pahala. Meski harus diakui panitia harus menyiapkan setidaknya 1.000 keping piring untuk mengganti piring-piring yang pecah.

“Jadi kita kalau yang jelas mengurangi sampah plastik yang pertama kedua kita mencoba merekatkan semangat gotong royong dengan piring seperti ini. Persiapan setelah maghrib, semangat gotong royong sangat kelihatan. Ketiga ini berbagi pahala kepada setiap orang yang membantu berlangsungnya,” ujarnya.

Ragam menu yang menggugah selera

Pembagian menu berbuka puasa dengan ribuan porsi piring terbang di Masjid Jogokariyan Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

Tak hanya ayam, menu yang dihidangkan pun beragam. Jamaah yang hadir dipastikan tidak akan pernah bosan. Menu seperti gulai ayam, tongseng, daging sapi, hingga daging kambing siap menggoyang lidah.

“Dalam hadis dikatakan bahwa barang siapa yang memberi hidangan berbuka untuk orang berpuasa mereka akan mendapatkan pahala sama seperti orang berpuasa tanpa mengurangi orang berpuasa tersebut. Jamaah berlomba-lomba untuk memberikan hidangan berbuka yang terbaik dan akan berbalik pada mereka dalam bentuk pahala,” katanya.

Advertisement
loading...

Tinggalkan Balasan