Warga Aceh Diimbau Boikot Maskapai Bertarif Mahal

BANDA ACEH – Maskapai Citilink dan Lion Air didesak untuk memasukkan Aceh dalam daftar rute penerbangan yang mendapat penurunan harga tiket. Jika tidak, warga Aceh diimbau untuk memboikot kedua maskapai itu. “Jika Citilink dan Lion Air masih memberlakukan tarif mahal untuk rute Aceh, kita imbau masyarakat memboikot kedua maskapai tersebut,” ujar anggota DPRA, Iskandar Usman Al-Farlaky.Spsnews

Hal itu disampaikan Iskandar menanggapi kebijakan dua maskapai penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) di Indonesia yaitu Citilink dan Lion Air, yang menurunkan harga tiket mulai Kamis (11/7) pukul 00.01 WIB. Tapi, Aceh tidak termasuk dalam rute penerbangan murah tersebut. Artinya, harga tiket dari dan ke Aceh tetap mahal seperti belakangan ini.

Penurunan harga tiket itu sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mewajibkan maskapai LCC menerapkan tarif 50 persen lebih murah dari tarif batas atas (TBA) yang sudah ditentukan setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Khususnya untuk jadwal penerbangan pukul 10.00 sampai 14.00 waktu setempat.Spsnews

Ia juga menyesalkan keputusan kedua maskapai tersebut. “Kami sangat kecewa dan saya yakin masyarakat Aceh juga kecewa. Ini bentuk diskriminasi terhadap masyarakat Aceh. Apa yang membedakan Aceh dengan daerah lain, sehingga Aceh tidak masuk dalam rute yang mendapat penurunan harga tiket?” ungkapnya.

Khusus Citilink sebagai anak perusahaan Garuda Indonesia yang cikal bakalnya lahir dari Aceh, menurut Iskandar, seharusnya peduli dengan Aceh.

“Seharusnya Citilink memahami sejarah. Kami tak minta harga tiket ke Aceh harus murah, tapi jangan bedakan Aceh dengan provinsi lain,” pintanya.

Penurunan harga tiket yang diterapkan Citilink dengan tidak memasukkan Aceh di dalamnya, kata Iskandar, makin memberatkan kondisi ekonomi masyarakat Aceh yang memang sedang sulit.

Selama ini, sambungnya, banyak warga yang berprofesi sebagai pedagang pakaian atau sektor lain menggunakan jasa maskapai untuk berbelanja ke Medan dan Jakarta. Dengan kondisi saat ini, harga-harga barang di Aceh akan tetap mahal sebagai akibat dari mahalnya harga tiket pesawat.

“Setahu kami banyak warga Aceh yang berbelanja ke Tanah Abang dan Medan untuk membeli produk garmen, pakaian, elektronik, dan asesoris. Jika harga tiket terjangkau akan membantu masyarakat. Tapi, jika tiket terus mahal berarti pemerintah membunuh ekonomi masyarakat dan ini sudah keterlaluan,” pungkas anggota Komisi I DPRA ini.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Aceh, Rustam Effendi juga mempertanyakan mengapa Aceh tidak masuk dalam rute penerbangan berbiaya murah atau low cost carrier (LCC) di Indonesia khusus untuk maskapai Citilink dan Lion Air. “Mengapa Aceh tidak masuk? Harus ada alasan lah mengapa? Semestinya Aceh diperhatikan, apalagi posisinya di ujung dan sedang membangun, Jadi, perlu menghidupkan iklim dunia usaha yang kondusif,” katanya.

Menurut Rustam, kebijakan kedua maskapai itu bisa menimbulkan kecemburuan. Sebab, sejumlah daerah lain masuk dalam rute yang mendapat penurunan harga tiket. Seharusnya, tambah Rustam, kedua maskapai itu tidak membeda-bedakan rute Aceh dengan rute lain. “Kalau mau kasih, ya kasih samalah semuanya.

Apa beda Aceh? Malah Aceh paling jauh, malah justru Aceh harus dilihat, saat ekonominya juga sedang mandek, harus ada insentif jangan disintensif,” katanya.

Rustan meminta kedua maskapai itu berlaku adil dan memberi perhatian lebih untuk Aceh.

“Seharusnya Aceh dapat hal-hal khusus, apalagi pesawat tertentu awalnya ada sumbangan kita juga.

Janganlah begitu, apa salah Aceh, apa dosa Aceh, tolonglah bersikap adil, jangan diskriminatif,” pungkas Rustam Effendi yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini.