Bersyukur dan bertafakur dengan Alam

Puncak Gunung Tealeuk kec.Tiro

NADpost.com-Sigli. Setiap orang memiliki narasi yang berbeda-beda saat setiap gunung yang sudah di taklukanya,bukan cerita betapa indahnya saat berada di puncak gunung tersebut,tetapi betapa indahnya proses dalam perjalanan menuju sebuah Capaian yang setiap detiknya nafas selalu bersyukur dan bertafakur atas Anugerah yang Tuhan berikan untuk Makhluk yang disebut Manusia.

Dalam setiap pendakian gunung kamu pasti akan di hadapi berbagai rintangan dan tantangan yang akan dilalui dalam perjalanan tersebut,saya teringat kata-kata Rocky Gurung dalam catatan sebuah pendakianya,ia mengilustrasikan bahwa
“Mendaki gunung bagaikan menikmati sebuah orkestrasi musik dalam bentuk bunyi-bunyian yang ada di hutan. “Angin, ciutan burung, desis ular, lahan yang patah karena terinjak, itu semua adalah orkestrasi.” Dan di gunung hanya punya satu aturan, hormati aku, kau akan selamat. Datangilah dengan ponggah, mati kau di cabik angin beku. Dan diterkam runcingnya tebing yang tak kenal belas kasihan.

Rupanya konsep ini memiliki korelasi dalam kehidup kita saat ini yang memikul jabatan tertinggi dalam sebuah Intitusi Negara atau puncak suktural dalam Puncak Gunung Tealeuk kec.Tiro lembaga apapun yang di embakan padanya,betapa tidak kadang orang lupa saat dia berada di puncak selalu melihat rendah kebawah dia tidak tau bahwa orang dibawah jugak melihat dia kecil oleh sikap angkuh dan sombong ketika dipuncak jabatanya,jadi naik gunung bukanlah persoalan hobi semata tetapi bagaimana kita membunuh ego,kesombongan,keangkuhan dan membunuh tuhan-tuhan kecil yang terpelihara dalam jiwa manusia yang kufur terhadap nikmat Allah yang sudah dititipkan kepa manusia.

padahal jelas Allah telah berfirman dalam
Surat Ar-Rahman, terdapat kalimat “Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan” (فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ)

“Maka nikmatilah Tuhan kamu yang mana lagi kamu dustakan”

dan perlu di ingat setiap gunung akan berbeda-beda Medanya,begitu jugak beda air beda ikan didalamnya dan beda alam akan beda pula tehnik pendakianya, meskipun sama-sama berbukit dan meliki lembah yang basah belum tentu kamu bisa menakar berapa jarak akan kau tempuh dalam setiap detiknya,dan berapa langkah kamu akan istirahat dalam setiap terjal yang akan kamu daki.

Nah bagi saya orang awam bukan berpa kali sudah saya taklukan gunung yang ada di bumi ini tapi berpa kali saya manfaatkan kesempatan untuk mendaki,karena saya sadari dari 7 kali jatuh bahwa ada 8 kali peluang untuk bangkit kembali,eksistensi inilah yang melekat dalam setiap pendakian yang saya arungi bersama teman-teman perjuangan.

Diakhir tulisan ini saya ingin sampaikan bahwa untuk kaum melenial jika kau seorang pencari cinta atau sahabat sejati saya sarankan agar tidak engkau bawa pulang bunga eldewis untuk orang yang kamu cintai, tetapi bawalah ia ke tempat bunga itu tumbuh agar dia hormati esistensi proses perjuangan engkau menjaga dia agara setiap langkah nya memastikan tidak mengapa.