Oknum Ketua Yayasan di Lhokseumawe Cabuli Mahasiswi, Kalau Ketahuan Harus Bayar Satu Miliar

NADPost.com | Terungkap surat yang isinya mengejutkan, yang dibuat oleh korban dugaan kasus pencabulan dan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum ketua yayasan di Kota Lhokseumawe.

Korban, sebut saja namanya Melati, diduga telah berulang kali dicabuli sejak ia masih menjadi mahasiswi hingga selesai wisuda kuliah di yayasan yang dipimpin oleh terduga pelaku berisnisial A.

Dalam surat yang diperoleh MEDIARESMI.COM, di dalamnya korban diminta berjanji untuk tidak melaporkan perbuatan terduga pelaku ke pihak manapun. Melati diminta tidak mengingkari janji terhadap apapun yang terjadi.

“Dengan ini berjanji dengan sungguh-sungguh tidak mengingkari janji apapun yang terjadi baik secara pribadi atau institusi tempat saya bekerja rela menyerahkan diri demi kepentingan pemberi beasiswa,” tulisnya.

Melati, juga menyatakan siap membayar ganti rugi 10 kali lipat dari total biaya yang diberikan kepada dirinya dalam menyelesaikan studi diploma (D IV) di yayasan yang dipimpin oleh terduga pelaku pencabulan tersebut.

“Apabila saya bersalah dan mengingkari perjanjian ini rela dihukum sesuai dengan perjanjian di atas dengan hukuman membayar denda pencemaran nama baik yang timbul akibat ulah saya,” tulisnya lagi.

Melati yang menandatangani surat bermaterai 6.000 itu bahkan diminta membayar Rp 1 miliar, jika sampai ketahuan perbuatan bejat yang diduga dilakukan oleh oknum ketua yayasan tersebut.

Surat yang dibuat dan ditandatangani pada 14 Maret 2020 itu sepertinya ditulis dengan berbagai iming-iming dan tekanan dari pelaku. Buktinya, kini masalah itu justru muncul ke permukaan.

Bak menyembunyikan bangkai, lama kelamaan pasti tercium juga bau busuknya. Inilah yang sedang terjadi. Kabarnya, Melati bersama keluarga juga sudah mengadukan hal itu kepada DPRK Lhokseumawe dan Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak.

Namun begitu, belum ada informasi lanjutan dari korban dan keluarganya, apakah masalah tersebut sudah dilaporkan kepada pihak Kepolisian atau belum. Sementara itu, hingga saat ini belum ada ketua yayasan di Lhokseumawe yang angkat bicara terkait tudingan ini. (Hi)